Bunga Kecil di Tepi Jalan

 

 

Angkutan  umum yang aku  tumpangi hendak mengantarkanku ke kampus. Sengaja aku duduk di samping supir untuk menikmati cerahnya pagi ini. Selama  perjalanan itu, panas sinar  matahari seolah bersaing dengan  hawa sejuk di pagi ini. Sesekali udara sejuk menyentuh kulit mukaku. Sesekali pula berkas cahaya matahari  masuk dari jendela mobil dan jatuh  sampai menyilaukan  mataku. Aku jadi tersenyum tipis menikmati keceriaan pagi ini.

Sementara suara-suara derum  mesin  sepeda motor yang berpacu terkadang menusuk telingaku, seakan-akan sepeda motor itu hendak  adu balap. Begitu nyata dan terasa sekali semangat orang-orang di pagi ini.

Sejurus kemudian  perhatianku  beralih kearah timur. Nampaklah olehku gunung Ciremai yang kokoh nan  lugu, namun amat memesonakan. Baru  kali ini kulihat begitu jelasnya gunung yang nun jauh letaknya di tanah pasundan seberang sana.

“Aduhai, amat perkasa memang gunung itu! “, gumamku dalam hati.

Masih banyak keadaan  yang belum sempat aku  nikmati ketika angkutan  yang aku tumpangi berhenti di sebuah  lampu  merah  ini. Ketika muncul sebuah tangan menengadah  tepat masuk ke arahku. Sontak aku  terperangah  kaget. Maka  tanpa tedeng aling-aling kuberikan  beberapa ribu rupiah ke pemilik tangan  kecil itu, yang ternyata ia gadis seumur anak TK, namun sudah suka mengenakan jilbab.

“Terima kasih kak! Semoga kakak makin dilancarkan rejekinya! “ ucap gadis itu.

Aku tak membalas terima kasihnya, karena sempat memandangi wajah  polos bunga kecil itu. Dari rona wajahnya itu, aku  kira kelak besar nanti ia akan tumbuh menjadi bunga yang kian mekar dengan keshalehahan-nya itu. Yang dipandang olehku tersipu-sipu malu. Barang kali setelah melihat cara pandangku  yang penuh cinta dan empati, ia sadar bahwa tidak semestinya ia berada di tepi jalan ini, atau dia malu akan kenekatannya sendiri  sementara ia berjilbab. Ah, bunga kecil itu…!

Setelah ia menjauh  dan kembali menepi ke trotoar jalan  sebelah kiri, kucoba  perhatikan gadis kecil itu: celana panjangnya, baju  muslimahnya, dan  jilbabnya, semuanya berwarna putih.Tubuhnya langsing. Wajahnya nampak manis sedikit.  anehnya, tidak ada satupun orang di sekelilingnya yang melihatnya dengan perasaan iba sediktpun. Mereka semua acuh tak acuh. Hanya aku seorang yang menggeleng-gelengkan kepala karena melihat keadaan bunga kecil berjilbab itu.

 

Ada perasaan tidak setuju dengan apa yang menimpa bunga kecil itu. Kupikir tidak sepatutnya orang tua yang melahirkannya mengajarinya untuk meminta-minta lalu melepasnya begitu saja, seberat apa pun masalah yang dihadapi orang tuanya. Aku kira supir disampingku yang melihat keadaan  memprihatinkan  bunga kecil  itu merasakan  keheranan yang amat sangat pula, sama seperti yang kurasakan.

“Masih  sekecil itu orang  tuanya tega benar mengajarinya meminta-minta ya, Bos!” kata si Supir.

“Ah, masa  iya pula gadis kecil seshalehah  seperti itu diajari perbuatan yang demikian? Orang tuanya memang kemana? Tidak kasihan, apa?” tanyaku pula  penuh keheranan. Si supir diam, tetapi urat dahinya menampakkan bahwa ia hendak mencoba untuk mengeluarkan unek-uneknya lagi.

“Jadi  menurut mas, dia itu pantasnya diajak mengaji, atau jika tidak, disekolahkan ke Taman al-Qur’an?  Begitu?! Sudahlah , mas! Lagipula dia minta-minta juga tidak sendirian. Tuh lihat saja teman-temannya itu!”

Mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba seolah-olah tidak berempati lagi dengan  gadis kecil itu, aku diam setengah  heran. Mendadak tumpah pertanyaan-petanyaan dalam hatiku.”Aneh, kenapa  tiba-tiba dia  jadi tidak  menaruh empati lagi dengan gadis itu? Bukankah memang lebih pantas gadis kecil berjilbab itu disekolahkan di Taman  al-Qur’an? Orang tua macam apakah yang membiarkan bunga kecilnya hidup meronta ditepi jalan? Sampai hatikah memang mereka melakukan perbuatan sekeji itu kepada anak gadisnya sendiri?”

“Yah, barang kali saja orang  tuanya lagi benar-benar kepepet, sampai-sampai mereka tidak bisa menghidupi anaknya sendiri. Tidak  peduli anaknya itu saleh atau  nakal. Pokoknya mereka tidak mau pusing-pusing untuk menghidupi anaknya. Jadi, jangan heran dengan kerasnya hidup di tepi-tepi  jalan  ini, mas!” kata supir itu sambil tancap gas. Rupanya ia tahu benar pertanyaan yang baru saja terlintas dalam pikiranku. Kulihat lampu hijau memang sudah menyala. Dan dari raut mukanya, si supir itu sepertinya sudah malas untuk berkata-kata lagi. Matanya kembali konsentrasi kedepan.

Seiring angkot melaju , dalam  sekejap bunga kecil itu hilang dari pandangan mataku. Sebenarnya masih ingin rasanya untuk memerhatikan bunga kecil itu lebih lama lagi.  Sudah tentu rasa ibaku  kepadanya sungguh  tak terbendung. Selama angkot  melaju dengan cepatnya, terasa hatiku seperti diiris-iris sembilu.

Dan dalam  rasa yang tercabik-cabik, aku  mencoba menikmati kembali perjalanan dengan angkutan ini, berharap bisa menerima mirisnya keadaan yang baru saja kulihat ini. Dan dalam  nurani yang amat tersentuh ini, tiba-tiba terbersit lintasan doa dalam benak hatiku.

“Duh, Ya Allah Yang  Mahalembut, aku yakin Engkau pasti menjamin dan melindungi bunga kecil itu, maka lindungilah dia Ya Rabb, sampai ia besar nanti dan siap dipetik oleh seorang hamba-Mu yang shaleh pula!”

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s